tes

tes
[CATATAN HARIAN SAYA] #MenulisAdalahMelawan #MenulisAdalahPembebasan - Yose Rizal Triarto - Yogyakarta, 20 November 2017.

Thursday, May 24, 2018

TENTANG MAKNA PENYINTAS

Sumber ilustrasi foto: http://biblepic.com/proverbs/23-18.htm

Sintas adalah adalah bertahan hidup dalam kondisi yang tidak diinginkan, dalam jangka waktu yang lama. Seseorang yang mengalami kondisi demikian disebut penyintas. Penderita suatu penyakit berkepanjangan, orang yang mengalami perlakuan tidak adil dalam waktu yang lama, atau orang yang bertahan selama dalam pengasingan atau peperangan, adalah penyintas. Kata 'penyintas' kali pertama muncul sekitar tahun 2005. Kata tersebut dipopulerkan oleh para aktivis kemanusiaan dan relawan saat terjadi bencana. Istilah ini merupakan terjemahan dari kata survivor dari bahasa Inggris yang berarti ‘orang yang selamat'. Meskipun semua penyintas mengalami penderitaan, namun tidak selalu sama dengan korban akibat suatu kejadian. Sebab, korban, pada umumnya tidak memiliki kemampuan (berdaya) untuk bertahan dalam suatu kondisi, bahkan ada yang meninggal dunia. Dengan demikian, apabila seseorang yang menjadi korban dari suatu kejadian atau bencana, tetapi ia berhasil bangkit, maka ia disebut sebagai penyintas.
--https://id.wikipedia.org/wiki/Sintas

Penyintas berasal dari kata dasar sintas yang diberi awalan peng-. Kata sintas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1315) merupakan bentuk kata sifat yang berarti ‘terus bertahan hidup atau mampu mempertahankan keberadaannya'. Dalam kaidah bahasa Indonesia apabila kata yang berawalan huruf k, p, t, dan s diberi awalan peng- maka huruf awal pada kata dasar tersebut akan luluh. Kata sintas setelah mendapat awalan peng- berubah menjadi kata benda penyintas yang berarti orang yang mampu bertahan hidup. Dengan demikian, penyintas adalah mereka yang masih bisa bertahan hidup setelah melewati zona berbahaya kehidupan, entah itu bencana ataupun penyakit yang berbahaya.
--http://www.balaibahasajateng.web.id/index.php/read/home/infobahasa_detail/103/Penyintas

Kamis, 24 Mei 2018 Pkl 16.00 WIB sore ini saat sedang browsing beberapa history di laman sosmed FB, tidak sengaja saya menonton sebuah official trailer film #MOWGLI di laman akun FB Cinemaxx Indonesia. Dalam video berdurasi 2:24 menit tersebut mata dan pikiran saya terpaku pada menit pertama lewat 22 detik yang menyebutkan dalam huruf kapital besar bahwa Mowgli adalah SEORANG PENYINTAS.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk membuka lembaran-lembaran digital – halaman situs, untuk mencari apa arti kata penyintas dan sintas. Saya pikir mungkin saya telah lama ketinggalan zaman dengan kata baru ini, dan sepertinya saya tidak sendirian, walau tentu sejak tahun 2005 an kata ini sudah cukup banyak diperdengarkan di kalangan publik, entah mengapa saya mendapatkan impresi, setelah buka banyak situs sana-sini, rasanya kok masih sedikit ya orang menggunakan kata ini. Ah tapi saya coba tepis jauh-jauh ‘prasangka’ ini ya mungkin sayanya saja yang gaptek. Hehehe.

Memang arti kata penyintas menurut beberapa orang dalam blog dan web mereka ternyata berarti 'orang yang selamat dari musibah'. Misalnya ada judul "Mati Ketawa ala Penyintas Gempa" (Purnawan Kristanto dalam "Sabda Space"), "Kesaksian Penyintas Jugun Ianfu" (Esther dalam "Esutoru"), dan "Penyintas Topan Durian Mulai Kuburkan Korban Tewas (Kapanlagi.com). "Penyintas" dalam judul-judul tersebut memang bisa diartikan sebagai 'orang yang selamat dari gempa, Jugun Ianfu, dan Topan Durian'. Namun dalam catatan berjudul "Asa Baru Perempuan Penyintas" (Veronica Kusuma dalam Kompas, 4 Desember 2006) punya pengertian lain, "penyintas" itu berarti 'orang yang ditinggalkan'.

Lalu ada pula yang menyebutkan bahwa seseorang yang menjadi penyintas dan bisa memiliki daya tahan karena kemampuan mengubah tragedi menjadi ironi. Para penyintas sebut dalam beberapa sumber, tanpa bermaksud meromantisasi penderitaan, tampaknya memang memiliki mekanisme untuk menertawakan kenestapaan hidup. Dengan menertawakan nasib tragis para penyintas bertahan dalam kesulitan dan tabah dalam penderitaan.  Dostoyevsky (Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky 1821-1881 adalah salah seorang sastrawan Rusia terbesar, yang karya-karyanya menimbulkan dampak yang panjang terhadap fiksi abad ke-20) sendiri pernah berujar, “Jika Anda berharap untuk melihat sekilas ke dalam jiwa manusia dan ingin mengenal seorang manusia, pandanglah saat dia tertawa. Jika dia tertawa dengan lepas, dia orang bijak.”

Anyway, sambil membaca ulang pengertian dan kisah singkat soal penyintas ini dalam dua paragraf awal di atas, saya justru makin bertanya-tanya akan esensi penggunaan kata ini, saya memilih penggunaan kata, ketimbang pemilihan kata, semata-mata karena saya menyadari dan mengakui saya bukanlah ahli bahasa atau lulusan linguistik, walau dalam keseharian jujur saya suka membaca dan menulis. Bagi saya dalam sekian banyak publikasi digital yang tersebar di media-media, saya masih merasakan kata penyintas masih sebatas kata baru bagi sebuah obyek atau benda bukanlah sebuah subyek atau pelaku. Tentu saja kata penyintas telah lama dan jauh dipakai dalam media-media massa, baik cetak maupun elektronik, namun sekali lagi kata tinggallah kata, ia tetap tak bernyawa.

Penyintas memang seharusnya adalah sebuah representasi pelaku, representasi hidup dan karyanya, orang per orang, bukan kolektif, dan kisahnya masih bersifat aktif. Namun sekali lagi entah mengapa impresi yang saya dapatkan kata penyintas dalam masyarakt adalah menjadi sekedar bentuk hasil akhiran, dan bukan sebuah proses perjuangan.

Saya bukanlah seorang mahasiswa ilmu filsafat maupun lulusan ilmu sosial, namun tidak butuh gelar dari ilmu-ilmu tersebut untuk menyadari bahwa memang masyarakat kita sedang bergeser untuk sekedar menghargai hasil ketimbang proses. Tanpa sadar kita menjadi produk dari perkembangan teknologi dan hidup yang berubah sedemikian cepat dan kompleks.

Kembali soal penyintas tadi, lalu apa hubungan background society yang sedang berkembang sedemikian pesat – ada yang mengistilahkannya sebagai bentuk dan proses disrupsi – di segala bidang, dengan kata penyintas?

Bagi saya arti kata penyintas saat ini mengalami penyempitan makna, yakni hanya sekedar sebagai sebuah hasil, yakni orang-orang yang sekedar berhasil selamat dari suatu kejadian, bencana, penyakit, dan sejenisnya. Ini memang sekedar opini, tapi bagi saya, seorang penyintas bukan sekedar seseorang yang telah berhasil melewati segala aral melintang, mencapai garis akhir pertandingan, dan setelah itu ia berleha-leha menikmati segala hal yang mana orang lain justru telah lama gugur, meninggal. Bukan! Buat saya seorang penyintas adalah seseorang yang masih terus melanjutkan perjuangannya bahkan setelah ia melewati masa-masa kritis dalam hidupnya, masih melanjutkan hidup dengan menebar kebaikan, membagi rasa dan semangat untuk terus bersyukur dan sekali lagi terus berjuang. Mereka tidak meminta dipuja-puja tapi saya yakin mereka juga ingin diterima sebagaimana manusia layaknya.

Pada titik dan pengertian ini saya bersyukur sekali masih boleh dipertemukan Selasa 22 Mei 2018 Pkl 19.00-22.00 WIB di Cube Hotel Prawirotaman Yogyakarta dengan Tante saya, Tina Irawati, seorang penyintas kanker dari Jakarta, seorang yang terus berjuang dan tak berhenti berdoa dan menebar welas asih dan kebaikan, bahkan setelah segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Saya sungguh senang dan berbahagia sekali dengan sharing dan pandangan hidupnya. Saya juga bersyukur akan Om saya, Koensmadhi Albertus, yang terus setia dan mendukung kegiatan-kegiatan bibi saya.

Sungguh iman dan pengharapan saya kepada-Nya kembali dikuatkan saat melihat dan berdiskusi dengan mereka saat itu. Saya melihat dan merasakan penyertaan dan kasih setia Tuhan lewat cerita, candaan, dan wejangan mereka berdua.

Tante membalas pesan WA ucapan terima kasih saya pagi esok harinya dengan menyebutkan, “... Semoga km dan Ratri rukun dan jaga kshtn.”

Sebagai penutup uneg-uneg catatan singkat ini, kemudian timbul pertanyaan dalam diri saya, apa sebetulnya esensi penyintas? Dari mana daya tahan dan kemampuan penyintas menerima hidup ini? Bagaimana dengan orang lain yang bukan penyintas? Apa yang bisa mereka pelajari dari perjuangan penyintas tersebut?

Yang saya tahu Tante dan Om saya masih terus berproses dan berjuang, masih terus meyakini hidup sebagai kesempatan, dan masih terus berdoa dan beriman kepada Tuhan Yang Esa Maha Asih...

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.
--Amsal 23:18

Monday, May 14, 2018

Eksposisi Kisah Para Rasul 2:1-13, 14-21 Refleksi Pentakosta & Khotbah Petrus


Eksposisi Kisah Para Rasul 2:1-13, 14-21 Refleksi Pentakosta & Khotbah Petrus
Yose Rizal Triarto, S.Si.
Materi2 PA PraRemaja GKJ KG Yogyakarta 19 Mei 2018 
Silahkan mengunduh gratis pada tautan di bawah ini.

https://www.slideshare.net/yosetriarto/eksposisi-kisah-para-rasul-2113-1421-refleksi-pentakosta-khotbah-petrus

Semoga bermanfaat. Soli Deo Gloria.

Saturday, May 12, 2018

Mari Bersama Berbagi: Pengalaman Literasi Baca Tulis

https://www.slideshare.net/yosetriarto/mari-bersama-berbagi-pengalaman-literasi-baca-tulis

Mari Bersama Berbagi: Pengalaman Literasi Baca Tulis
Yose Rizal Triarto, S.Si.
Materi1 PA PraRemaja GKJ KG Yogyakarta 19 Mei
Silahkan mengunduh gratis pada tautan di bawah ini.


Semoga bermanfaat. Gusti mberkahi.

Saturday, May 5, 2018

MENYOAL RELEVANSI MAKNA SEKOLAH MENYENANGKAN DAN RAMAH ANAK BAGI KITA

Sumber ilustrasi foto: https://goo.gl/ahrFq2

**MENYOAL RELEVANSI MAKNA SEKOLAH MENYENANGKAN DAN RAMAH ANAK BAGI KITA**

Dulu, suka tidak suka, senang tidak senang, anak-anak seumuran saya harus mau dan mampu untuk belajar. Apapun kondisi dan ceritanya.

Sekarang, menurut penuturan dan tulisan beberapa kawan yang vokal bicara dan menjadi narasumber favorit dalam gerakan sekolah kekinian, ketika anak-anak senang, dia pasti akan mau diminta untuk belajar. Itu sebabnya, sekolah harus menyenangkan dan ramah anak.

Bukankah ini berarti, justru kita sendirilah yang memudahkan hidup anak dan membuat sempit pandangan dan perjuangannya akan makna sekolah dan belajar? Bukankah ini berarti, bahwa kitalah yang memastikan dan membuat segalanya tampak nyaman, aman, dan tanpa masalah sama sekali bagi tumbuh kembang kepribadian dan karakter anak? Bukankah ini berarti, karena kita sendirilah, dalam artian di masa depan, anak tidak akan memiliki cukup banyak pengetahuan dan pengalaman, bahwa hidup tidak selalu tampak menyenangkan dan ramah baginya, sehingga dia mau dan mampu untuk melewati segala masalah itu? Bukankah ini berarti, kita sendirilah yang justru membuat anak-anak itu tumbuh kerdil dan berkembang cantik ala bonsai yang sedap dipandang mata, namun sesungguhnya bukanlah arti hidup yang sebenarnya?

Dan di akhir nanti, kita pun masih saja mengeluhkan, mengapa begitu banyak anak jaman now, yang begitu mudah mengeluh dan menyerah ketika menghadapi masalah.

Mungkin sebetulnya kitalah yang seharusnya berubah dan mulai kembali belajar.

Wednesday, April 25, 2018

Telaah Pustaka Budaya Jawa BPID DIY "Menumbuhkan Minat Membaca dan Menulis Novel Bahasa Jawa"

 
 

Matur nuwun kagem kesempatan lan apresiasi na Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY. Mugi-mugi migunani. Amiin.

---
Telaah Pustaka Budaya Jawa Edisi Bulan April 2018 diselenggarakan oleh BPAD DIY mengangkat tema “Menumbuhkan Minat Membaca dan Menulis Novel Bahasa Jawa” pada Rabu (25/4/2018) di Ruang Seminar lantai 3 Grhatama Pustaka Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY.

Narasumber Telaah Pustaka kali ini berasa dari profesional dan budayawan, beliau berdua adalah Purwadmadi dan Dhanu Priyo Prabowo yang mengulas mengenai novel bahasa jawa dan perkembangannya sampai saat ini khususnya di Yogyakarta.

Dalam kesempatan ini, acara dibuka oleh Kepala Seksi Pelelayanan Perpustakaan Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY Meiranti Nurani, SH. Acara ini dihadiri sekitar 70 peserta yang berasal dari berbagai kalangan. (nw)

Silahkan unduh materi di link bawah ini:


Dokumentasi foto kegiatan Telaah Pustaka Budaya Jawa dengan Tema: Menumbuhkan Minat Membaca dan Menulis Novel Bahasa Jawa"

 
 

Monday, April 23, 2018

Kartini di Antara Batik dan Harapan Indonesia



Walau tidak memperoleh juara namun cukup berbangga dan berbahagia boleh berkontribusi mengirimkan satu tulisan yang sy akui cukup 'banal alias nakal berkontemplasi sekaligus bermimpi' untuk acara ini :


(mungkin karena itu juga naskahnya ndak lolos sebagai juara ya. hehehe)
[Selengkapnya silahkan kunjungi laman blog dan membacanya dengan judul "Kartini di Antara Batik dan Harapan Indonesia" berikut ini] Terima kasih.


---
Kartini di Antara Batik dan Harapan Indonesia
Oleh : Yose Rizal Triarto

Setiap tahunnya bulan April mungkin adalah salah satu bulan yang cukup merepotkan bagi orang tua yang punya anak usia TK. Pasalnya sebagian besar sekolah di Indonesia akan menggelar Kartinian, yang mana salah satu komponen kegiatannya adalah ‘parade berkostum’. Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, mau atau tidak mau, harus hadir di sekolah dengan pakaian adat atau pakaian cita-cita. Itu artinya orangtua mereka harus siap berjibaku mencari kostum untuk putra-putri mereka.
Berbeda halnya dengan hiruk pikuk para jomblowati mencari busana kondangan manten mantan kekasih, hiruk pikuk mencari kostum Kartinian untuk ananda tercinta ini cukup pelik. Pertama, tentu saja kostum itu harus berukuran kecil. Kedua, harus menggambarkan cita-cita anaknya. Jika ananda terkasih berjenis kelamin perempuan, hal itu jauh lebih mudah. Apapun cita-citanya, gadis-gadis mungil ini harus pasrah dengan kewajiban utamanya yaitu berbatik dan berkebaya. Kan Kartinian. Sedangkan untuk anak laki-laki, ada beberapa alternatif kostum seperti surjan, seragam polisi atau tentara, sampai seragam pilot. Yang paling sulit tentu saja jika cita-cita si anak laki-laki adalah PNS, maklum, baju korpri berukuran anak memang sulit didapat.
Maka tiap tahunnya setiap bulan April adalah berkah bagi beberapa tempat persewaan kebaya karena beberapa orang tua yang logis sudah barang tentu akan segera nglarisi usahanya. Sisanya saya anggap tidak logis, karena para orang tua itu akan membeli pakaian baru atau order ke penjahit langganan. Mengesampingkan fakta bahwa baju-baju lucu itu hanya akan menjadi artefak dalam beberapa tahun saja.
Terlepas dari banyaknya pendapat para cendekia sejarah baik yang pro maupun yang kontra tentang betapa perayaan hari Kartini di negara kita adalah sungguh sebuah pendegradasian nilai-nilai subtil tentang perjuangan Kartini, saya pribadi mengenang Kartinian masa kecil saya sebagai sebuah momen yang indah. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa kok bisa indah. Mungkin karena saya melihat beragam atribut pakaian kejawen yang selalu hadir dalam ukuran orang dewasa ternyata bisa di minimize, dan saya (waktu itu umur 5 tahun) tampak menggemaskan dalam balutan kostum surjan meskipun cita-cita saya waktu itu adalah menjadi astronot.
Bila Anda saat ini adalah seorang pria dewasa, jomblo ataupun on the market, menikah atau belum menikah, maka sesekali cobalah pergi ke bank saat hari Kartini. Pastilah Anda akan menemukan betapa kecantikan wanita Indonesia yang utuh ketika memandang embak-embak teller dan costumer service dalam balutan batik dan kebaya. Seksi dalam konteks yang mriyayeni tersaji lewat betis yang hanya tampak mintip-mintip malu di balik kain jarik. Percayalah.
Jujur saja, saya pribadi iri melihat embak-embak itu. Mereka bisa punya alasan kuat untuk berbatik dan berkebaya tanpa harus berakhir di gedung resepsi. Apakah ada cara lain untuk bisa benar-benar merasakan sensasi berkebaya dan berkain untuk bekerja selain di bank? Mungkin ada di beberapa kantor pemerintah. Tapi masak iya mau berbatik dan berkebaya untuk kulakan bahan di pasar, kirim paket ke stasiun lalu pulangnya mampir swalayan beli susu. Lak yo malah wagu.
Bila pulang kampung, baik di pasar, di jalan, dan di sawah, saya masih sering menjumpai simbah-simbah putri berkain dengan setagen yang membebat perutnya, dan jika udara gerah mereka masih menyisakan kutang sebagai penutup tubuh karena kebaya secara optional bisa dilepas. Sungguh cara berbusana yang hampir bisa dipastikan akan punah dalam 10-20 tahun lagi. Yang tersisa hanya kios-kios usang yang menjual kebaya dan kain batik bekas di sudut-sudut klitikan. Tragis.
Untuk itu, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang peduli busana  dan mencintai batik Nasional, maka pada momen Kartinian kali ini, meskipun sungguh di luar konteks “Kartini” jika dipantau dari sudut pandang manapun, saya berharap pada pak Presiden Jokowi agar segera menggerakkan seluruh instansi terkait guna merespon kegelisahan saya mengenai hal ini. Saya mengusulkan agar pemerintah menyelenggarakan hari Kartini yang lebih masif dan terstruktur. Kalau perlu buat menjadi seminggu. Minggu Kartini.
Prosedurnya, buatlah kewajiban berkebaya di minggu Kartini bukan hanya untuk dedek sekolah saja, tapi semua wanita Indonesia. Di pasar, di kantor, di rumah, di pusat perbelanjaan semua wanita harus berbatik dan berkebaya. Kalau perlu kerahkan satpol PP untuk melakukan sweeping para wanita yang tidak melaksanakan anjuran pemerintah. Konde? Tidak perlulah, cukup sebagai optional yang sifatnya sunnah.
Jika perlu, selama seminggu itu pemerintah merangkul semua elemen masyarakat termasuk di antaranya para motivator, selebgram, hingga blogger, untuk mengkampanyekan kebijakan ini. Misalnya menghimbau semua selebgram yogis ternama untuk membuat yoga pose challenge dalam balutan kain kebaya, mewajibkan semua motivator agar memposting faedah berkebaya di semua lini masa mereka, menghimbau semua blogger fashion untuk mengulas tips berkebaya praktis sebelum minggu itu dimulai.
Sungguh tiada upaya yang tak mungkin untuk dilakukan jika tujuan di baliknya adalah benar-benar baik. Saya pribadi amat percaya, walaupun akan terasa mustahil pada awalnya, tapi batik dan kebaya sebagai pakaian sehari-hari sangat mungkin untuk kembali membudaya. Program yang awalnya seminggu dapat ditindak lanjuti oleh beberapa pihak, seperti bank BUMN, bank swasta, pusat perbelanjaan, hingga kantor-kantor swasta nantinya akan menjadi sebuah program yang berkelanjutan. Yang awalnya kebijakan bisa menjadi kebiasaan. Yang awalnya terpaksa bisa menjadi terbiasa. Semoga.

Sunday, April 22, 2018

BUAT TAN MUDA DI INDONESIA

https://web.facebook.com/shelter.utara/photos/a.516261735178927.1073741836.346247585513677/1043509969120765/?type=3&theater


BUAT TAN MUDA DI INDONESIA

teruntuk Kawan-Kawan Panitia Pemutaran & Diskusi Film Dokumenter Mahaguru Tan Malaka
"Shelter UTARA" Koto Padang, Sumatera Barat yang dipaksa batal



Orang bilang tak kenal maka tak sayang.

Makin tak kenal maka kau pun akan makin terlupakan.

Dalam segala berita dan ironi drama palsu yang dipaksa menjadi santapan kami.

Hanya sungguh amat disayangkan intimidasi dan represi masih menjadi budaya tak resmi di negeri kami.

Semoga kawan-kawan muda nan berani tak pernah berhenti untuk terus bermimpi.

Jalan perjuangan dan pembebasan manusia sejak dulu memang selalu sepi dan sunyi.

Dalam perjuangan tak semua orang bisa engkau selamatkan.

Karena memang tak semua orang mau dan mampu untuk ikut serta dalam gerakan pembebasan.

Maaf banyak dari kami yang sudah terlalu tua dan lelah untuk bermimpi.

Terlalu lupa akan mengapa kami hidup dan ada di negeri ini.

Namun bukan berarti engkau musti menyerah dan berhenti.

Terus membaca, terus menulis, terus berjuang, sampai hari akhir tiba.

Tapi bukan untuk membuat dirimu menjadi selebritis, tapi bagi sebuah cita-cita mulia.

Agar semua manusia Indonesia makin kenal dengan Bapaknya.

Agar penerimaan akan perbedaan bukan lagi menjadi jargon politik untuk menjual nama.

Hingga kelak di hari akhir nanti semua usahamu tak akan sia-sia.

Yogyakarta, 22 April 2018

---
Kronologis peristiwa sebagaimana dikutip dari akun FB Kiki Rizki Irwansyah
Saturday, April 21, 2018 at 9:01pm

* H-4 pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA, pada hari Selasa, 17 April 2018 pukul 12.11 saya (Dini) ditelpon dengan sangat tidak beretika (tanpa salam dan nyolot) oleh seseorang yang mengaku RW 3 Nanggalo perihal pemutaran film Tan Malaka, beliau menanyakan apakah acara ini sudah ada izinnya atau belum, kemudian kenapa tidak diberitahukan kepada pihak spt RT RW Kapolsek. Padahal selama ini ketika surat dikeluarkan, tdk ada pihak manapun yg datang.

*H-4 pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA, pada hasi Selasa, 17 April 2018 sekitar jam 3 sore. Salah satu pengurus lapangan PORKAB datang ke Shelter Utara.
mempertanyakan pemutaran film Tan Malaka dan mengatakan film ini membuat heboh di kelurahan dan kapolsek dan orang "atas".
dan mereka merasa kecolongan. Saya (Bajok) yang sedang berada di tempat saat itu disuruh untuk segera melapor.

*H-4 pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA
malam pukul 21.30 saya (Dini) , Cho , dan beberapa teman lainnya sedang bercengkrama di depan perpustakaan shelter utara, saat itu kami kedatangan tamu, yakni RT setempat, beliau menanyakan mana yg namanya Dini, kebetulan kami ada di sana. Nah saat itu, beliau mengatakan bahwa disuruh utk menanyakan apakah mmg ada pemutaran film Tan Malaka di shelter utara, beliau membawa secarik kertas yg berisi : nama acara, sutradara, narsum, contact person acara, serta alamat shelter utara. kami tdk tahu dia mendapat kertas itu dr mana. padahal dia tdk bisa memakai gadget, katanya ada org yg memberikan dan org itu mendapatkannya dr online, atau berita online. Beliau meminta kami utk segera melapor dan berdiskusi kepada Kapolsek Nanggalo mengenai pemutaran dan diskusi film ini, untuk izin, dll. Beliau seperti mendapat tekanan dr entah siapa utk menyelidiki kegiatan kami, padahal sebelumnya beliau tau di shelter ada kegiatan dan brapa kali jg ke shelter, dan itu aman-aman saja. shelter utara jg mengundang warga setempat, RT, dan RW utk dtg acara kami. Sejauh ini hubungan yg kami bangun dg warga setempat dan pihak yg berwenang di selingkar shelter pun baik-baik saja.

* H-3 Pemutaran Film TAN MALAKA, Rabu, 18 April 2018,pukul 10.51 dan 11.00 saya ( Dini ) ditelepon oleh seseorang yg mengaku warga Nanggalo beliau bertanya tentang semuanya. Mulai dari siapa saya, apa itu Shelter Utara, apa makna kata Shelter Utara, sejak kapan berdirinya, siapa saja yang datang ke shelter, film2 apa saja yang diputar di Shelter Utara, film Tan Malaka ini apa? siapa yg terlibat, berapa jumlah penontonnya, bayar atau tidak, berapa durasi filmnya, apakah akan diputar jg di bioskop atau tidak film ini. Shelter Utara ini gedungnya punya siapa. dll.

* H-3 Pemutaran Film Maha Guru Tan Malaka,
Rabu, 18 April 2018,
Siang, pukul 11:35. Seseorang dari Kapolsek (intel) datang ke Shelter Utara. Melakukan introgasi kepada saya ( Cho ) tentang latar belakang saya, keluarga saya, perpustakaan Shelter Utara, buku-buku apa saja yang ada di perpustakaan dan dari mana saja buku2 tersebut berasal, kegiatan2 apa saja yang ada di shelter utara, dari dan hingga jam berapa. siapa-siapa saja yang datang ke perpustakaan, dsb.
Beliau mengaku ditugaskan oleh atasan untuk mencari tahu tentang shelter utara terkait laporan yang diterima.
Beliau juga mengambil foto dengan kamera ponselnya, setiap sudut perpustakaan, buku2 yang ada di pustaka. serta merekam video ketika saya dan ibu saya berbicara secara sembunyi2.
dan saat ditanyai terkait dengan kegiatan pemutaran film kami nantinya, beliau bilang masih memantau dan itu wewenang atasan

*H-3 Pemutaran Film MahaGuru TAN MALAKA,
Malam, 21.30
saya (Bajok) sekitar jam setengah 8 malam, saya didatangi ketua RW 10 (pak Jun) menanyakan tentang kegiatan pemutaran film Mahaguru Tan Malaka, dan mengklarifikasi berita yang beredar, bahwa kami (shelter Utara) menggunakan lapangan PORKAB untuk berkegiatan pemutaran film dan diskusi, padahal kami tidak memakai lapangan porkab untuk acara apapun, hanya menjadi penunjuk arah untuk orang yang datang ke shelter. Dan juga menyebutkan berita yang beredar bahwa film yg kita putar ini mengandung unsur SARA dan Pak Jun mengatakan bahwasanya perangkat RT/RW setempat telah di panggil ke kelurahan dan Polsek Nanggalo. Kemudian, Pak RW bertanya mengenai film, saya perlihatkan film tersebut dari awal, dan saya bilang bahwa film ini didukung langsung oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan, lalu pak RW bilang, Kemdikbud Padang tidak pernah memberi logo kepada kami, padahal pihak film bekerja sama dengan Dirjen yang ada di pusat, bukan di daerah. dan kami dituduh menempel logo palsu atau hanya tempelan. Akhirnya, Pak Jun menyuruh kami untuk segera melapor ke Kapolsek Nanggalo.


*H-2 Pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA
Kamis 19 April,
Pagi jam 09.00, shelter Utara di datangi lurah dan babinsa, mereka menanyakan berita yang tersebar di masyarakat perihal pemutaran film dan diskusi maha guru Tan Malaka, setelah di jelaskan mereka mensupport kegiatan kami "asalkan kegiatan ini positif kami dukung" namun mereka tetap menyarankan agar mengurus surat izin keramaian ke Polsek Nanggalo.

Siang pukul 10.10 saya (dini) ditelepon oleh anggota Polsek Nanggalo menanyakan seputar pemutaran film mahaguru tan malaka di shelter utara dan saya diminta untuk segera datang ke polsek siang ini, dan saya mengatakan perwakilan shelter utara akan datang ke polsek nanggalo.

Siang, pukul 11.30 kami (cho dan wahyu) didampingi LBH Padang (Aulia Rizal) mendatangi Kapolsek Nanggalo untuk menemui kapolsek nanggalo. Sesampainya di polsek nanggalo kami telah ditunggu oeh kapolsek nanggalo dan menanyakan tentang pemutaran film mahaguru tan malaka, apa itu shelter utara, apa arti dari nama shelter utara karena menurut mereka itu aneh dan janggal, kemudian mereka menanyakan perihal izin penayangan, apakah film tersebut telah lulus sensor, kemudian kami menjawab bahwa film mahaguru tan malaka merupakan film yang disponsori direktorat jendral kementrian pendidikan dan kebudayaan, lalu mereka menanyakan bukti kerja sama tersebut. Kami memberikan film tersebut untuk di tonton langsung oleh pihak polsek nanggalo sesuai instruksi dari sutradara.
Karena poster acara ini sudah tersebar di media online dan sudah tersebar ke umum, mereka menyarankan untuk mengurus surat izin langsung ke POLDA SUMBAR, namun Aulia riza (LBH) menanyakan kenapa kami harus mengurus surat izin ke POLDA ? dan mengapa tidak bisa mengurus surat izin ini di Polsek saja. Kemudian mereka menyuruh kami untuk mengurus izin dahulu ke pejabat kelurahan setempat (RT,RW,Lurah).
Sehabis magrib saya (wahyu) mengurus surat izin pemberitahuan kegiatan, didampingi salah seorang kerabat (Nasril) untuk bertemu pak RT,RW dan Ketua Pemuda. Setelah bertemu RT,RW dan ketua Pemuda mereka masih mempertanyakan tentang pemutaran film, dan mereka mengakui masih di desak oleh kelurahan dan polsek nanggalo, kemudian pak RW menelpon pak lurah untuk menanyakan pemberian izin kegiatan, awalnya pak lurah tidak setuju karena pak rw tidak menjelaskan secara detail, dan sementara setelah saya yang berbicara dengan pak lurah dan menjelaskan lebih rinci pak lurah mengizinkan untuk pemberian tanda tangan bahwa rt/rw mengetahui dan mengizinkan kegiatan ini, namun setelah pak rw berbicara via telpon lagi, pak rw mengatakan bahwa kalau ada surat apapun yang turun jangan di tanda tangani, kemudian keputusan pak rw kita ketemu langsung dengan lurah dan camat setempat.

*H-1 Pemutaran Film Maha Guru TAN MALAKA
Jumat, 20 April 2018. Pukul 09.00 WIB saya (bajok) bersama cho pergi ke Kantor Camat Nanggalo di dampingi lurah nanggalo, rt 2 dan rw 3 untuk bertemu langsung dengan camat, sesampainya di sana camat tidak dapat memberi izin perihal kegiatan pemutaran film maha guru tan malaka, namun mereka suport kegiatan lain secara penuh. Saat kami tanya alasannya kenapa kita tidak diizinkan, beliaupun juga tidak dapat memberikan alasan karena memang diperintahkan begitu dari “atas” film tersebut tidak diizinkan untuk diputar.jika kami tetap melakukan pemutaran maka nanti akan ada tim pembubaran kegiatan tersebut yang akan datang ke lokasi.karena beberapa oknum memang sudah mewanti2.

Pukul 15:00 saya (bajok), cho dan ditemani Aulia Rizal ( LBH Padang ) mendatangi Polresta Padang ingin bertemu dengan Kasat Intel terkait izin pemutaran film kami.Namun tidak membuahkan hasil karena beliau tidak ada di tempat.